Beberapa hari yang lalu, setelah melalui perjuangan panjang akhirnya saya berhasil nonton film yang paling saya tunggu tahun ini, Laskar Pelangi (LP). Setelah sebelumnya sempat 4x gagal nonton gara-gara kehabisan tiket wlo dah antri dari jam 10 yang menurut saya sangat pagi, ilang filing karna liat antrian yang kaya ular naga panjangnya dari depan loket hingga eskalator 21, Sabtu (18/10) ngidam saya akan film dari novel Andrea Hirata itu terpenuhi juga.
Ikut bangga donk, novel favorit kita ternyata banyak banget penggemarnya. Tak sedikit pula penonton yang malah belom pernah membaca novel aslinya. Mereka tertarik nonton karna “kata temen bagus” atau karna termakan propaganda iklan filmnya yang memang gencar banget. Terutama dari video soundtracknya yang hampir tiap hari ada di TV. Gagalnya saya nonton LP berkali-kali seperti yang saya dan beberapa teman rasakan pun menunjukkan bukti bahwa film ini sukses besar. Dari berita yang saya dengar tadi pagi, film ini telah ditonton lebih dari 2 juta orang. Wew…
Tapi yang namanya penggemar literatur asli memang gak bisa dipuaskan oleh visualisasi novel yang dibuat orang lain. Saya kok gak puas ya nonton LP. Mungkin karena jalan ceritanya jadi berbeda, pemeran film tidak seperti yang dibayangkan, atau beberapa bagian novel yang menurut say penting malah tak dimuat? Yang paling saya rasakan kemarin sih, alur ceritanya jadi kuran mengalir. Terlalu cepat, terburu-buru. Wah, saya gak begitu bisa menikmati tipe film beginian. Hal ini juga terjadi ketika saya nonton Ayat-ayat Cinta (AAC) setelah baca novelnya dulu. Bedanya, saya bukan penggemar AAC.
Yah, mau gimana lagi, novel setebal 500an halaman dikompres ditampilkan hanya dalam waktu 2 jam. Waktu sebegitu sempit mana cukup… Tak semua biji novel, yang menurut saya penting, dapat disampaikan oleh Riri Riza beserta anak buahnya. Saya jadi berpikir, umn.. , apa harus ya film itu dibuat?
Wah, jadi berasa egois ya? Saya berasa jadi penggemar fanatik yang gak mau orang lain ikut menikmati apa yang kita cintai hanya karna takut imajinasinya dirusak.. Haha, mau bagaimana lagi, saya ngefan berat dengan setiap kata dari LP dan novel2nya Bang Ikal. Susah kan?
Andai Pemimpin Indonesia Seperti Ini… Oktober 29, 2008
Tags: Calon Presiden, Mahmoud Ahmadinejad, Pemilu 2009, President, Tokoh Dunia
Satu kata: Saluut..
Andai Presiden Indonesia 2009 bisa seperti ini.
taken from http://catatanmuslim.wordpress.com/2008/10/16/aneh-tapi-nyatamasih-ad-presiden-yg-seperti-ini/
Presiden Iran saat ini: Mahmoud Ahmadinejad,
ketika di wawancara oleh TV Fox (AS) soal kehidupan pribadinya: “Saat anda melihat di cermin setiap pagi, apa yang anda katakan pada diri anda?”
Jawabnya: “Saya melihat orang di cermin itu dan mengatakan padanya:”Ingat, kau tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggung jawab yang berat, yaitu melayani bangsa Iran .”
Berikut adalah gambaran Ahmadinejad, yang membuat orang ternganga:
1. Saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan Ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang sangat tinggi nilainya itu kepada masjid2 di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan.
2. Ia mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP, lalu ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan 2 kursi kayu, meski sederhana tetap terlihat impresive.

3. Di banyak kesempatan ia bercengkerama dengan petugas kebersihan di sekitar rumah dan kantor kepresidenannya.
4. Di bawah kepemimpinannya, saat ia meminta menteri2 nya untuk datang kepadanya dan menteri2 tsb akan menerima sebuah dokumen yang ditandatangani yang berisikan arahan2 darinya, arahan tersebut terutama sekali menekankan para menteri2nya untuk tetap hidup sederhana dan disebutkan bahwa rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi, sehingga pada saat menteri2 tsb berakhir masa jabatannya dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak.
5. Langkah pertamanya adalah ia mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977, sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran. Rekening banknya bersaldo minimum, dan satu2nya uang masuk adalah uang gaji bulanannya.
6. Gajinya sebagai dosen di sebuah universitas hanya senilai US$ 250.
7. Sebagai tambahan informasi, Presiden masih tinggal di rumahnya. Hanya itulah yang dimilikinyaseorang presiden dari negara yang penting baik secara strategis, ekonomis, politis, belum lagi secara minyak dan pertahanan. Bahkan ia tidak mengambil gajinya, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.
8. Satu hal yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yg selalu dibawa sang presiden tiap hari selalu berisikan sarapan; roti isi atau roti keju yang disiapkan istrinya dan memakannya dengan gembira, ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden.
9. Hal lain yang ia ubah adalah kebijakan Pesawat Terbang Kepresidenan, ia mengubahnya menjadi pesawat kargo sehingga dapat menghemat pajak masyarakat dan untuk dirinya, ia meminta terbang dengan pesawat terbang biasa dengan kelas ekonomi.
10. Ia kerap mengadakan rapat dengan menteri2 nya untuk mendapatkan info tentang kegiatan dan efisiensi yang sdh dilakukan, dan ia memotong protokoler istana sehingga menteri2 nya dapat masuk langsung ke ruangannya tanpa ada hambatan. Ia juga menghentikan kebiasaan upacara2 seperti karpet merah, sesi foto, atau publikasi pribadi, atau hal2 spt itu saat mengunjungi berbagai tempat di negaranya.
11. Saat harus menginap di hotel, ia meminta diberikan kamar tanpa tempat tidur yg tidak terlalu besar karena ia tidak suka tidur di atas kasur, tetapi lebih suka tidur di lantai beralaskan karpet dan selimut. Apakah perilaku tersebut merendahkan posisi presiden?

Presiden Iran tidur di ruang tamu rumahnya sesudah lepas dari pengawal2nya yg selalu mengikuti kemanapun ia pergi. Menurut koran Wifaq, foto2 yg diambil oleh adiknya tersebut, kemudian dipublikasikan oleh media masa di seluruh dunia, termasuk amerika.
12. Sepanjang sholat, anda dapat melihat bahwa ia tidak duduk di baris paling muka



13. Bahkan ketika suara azan berkumandang, ia langsung mengerjakan sholat dimanapun ia berada meskipun hanya beralaskan karpet biasa
14. Ia juga tidak mau bersalaman dengan wanita yang bukan muhrimnya, cukup menundukan kepala sebagai rasa hormat
Mudah-mudahan di pemilu yang akan datang kita akan memiliki Presiden seperti itu…