Keputusan pemerintah menaikan harga BBM memicu banyaknya protes dari berbagai kalangan. Ibu-ibu rumah tangga, sopir angkot, pekerja, hingga mahasiswa turun ke jalan untuk ‘merayu’ pemerintah menurunkan kembali harga BBM. Salah? Tentu tidak. Harga BBM yang melonjak memang membawa petaka tersendiri bagi banyak pihak. Biaya operasional angkot otomatis bertambah yang berakibat pada turunnya penghasilan sopir dan kondektur, berkurangnya konsumen pengguna jasa, hingga pengurangan armada yang mengancam mata pencaharian mereka. Naiknya biaya operasional transportasi juga merangsang kenaikan harga-harga kebutuhan pokok lain, yang secara langsung dirasa oleh para ibu rumah tangga seantero Indonesia. Dari dulu sampai sekarang, yang namanya kenaikan harga BBM pasti banyak gag enaknya.
Masalahnya di sini ialah, mahasiswa (baca: BEM) yang notabene merupakan bagian dari masyarakat intelek juga ikut-ikutan berunjuk rasa meminta pemerintah menurunkan harga BBM yang sudah menjadi ketetapan. Dipikir lagi lah, harga minyak dunia yang memang lagi naik, sekitar US $130 per barel, memang menuntut konsekuensi kenaikan harga BBM untuk menyelamatkan APBN dan aspek-aspek pembangunan yang lain (kecuali pembangunan gedung pribadi pejabat tentunya). Realistis donk, bagaimanapun kenaikan harga BBM menjadi salah satu solusi menghindari dampak negatif yang lebih luas. Bertambahnya hutang dan penyelundupan BBM ke luar negeri karena kesenjangan harga minyak kita dengan negara tetangga misalnya..
Seharusnya mahasiswa yang ikut lembaga eksekutif itu, yang bau-baunya bakalan menggantikan para wakil rakyat di Senayan sana, lebih perlu menyoroti cara bagaimana menaikkan daya beli masyarakat terhadap barang-barang kebutuhan. Jika harga mahal tapi kita mampu beli, mana ada masalah? Malahan jatuhnya 44 BUMN ke tangan investor asing tak disoroti seramai kenaikan harga BBM. Padahal jatuhnya BUMN tersebut, seperti halnya hutang, berdampak besar pada stabilitas ekonomi nasional secara luas. Jatuhnya aset negara yang menguasai hajat hidup orang banyak, yang tentu bertentangan dengan pengamalan UUD ‘45, mengakibatkan ketergantungan kita terhadap pihak asing sementara secara perlahan namun pasti kita kehilangan kekayaan alam kita sendiri. Perampokan besar-besaran! Legalisasi kapitalisme gaya baru! Menyediakan diri untuk dijajah.. Rasanya seperti negara ini dijual terpisah..
Heran, knapa segitu banyak mahasiswa yang demo cuman koar-koar tanpa hasil. Sementara, sebenarnya mereka bisa melakukan hal yang lebih berguna. Mencoba menemukan sumber energi alternatif misalnya.. Atau membuat perangkat baru yang dapat berfungsi dengan bahan bakar alternatif.. Atau, membuat suatu alat yang dapat memaksimalkan penggunaan bahan bakar, menaikkan nilai oktan bahan bakar kendaraan sehingga dapat menghemat penggunaan BBM.. Menggalang modal lalu menciptakan lapangan pekerjaan baru, kecil namun mewadahi.. Mengajak mandiri lalu bangun dan berdiri..
Jangan-jangan mahasiswa yang demo itu memang cuma bisa koar-koar.. Kalau sudah jadi petinggi ya diam saja. Bukannya yang sekarang duduk di kursi itu dulu juga ada di barisan depan demonstrasi mahasiswa ya?
Ah, siapa yang bodoh? Mungkin juga aku yang sampai saat ini belum melakukan apa-apa?
kebijakan kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat atau tanpa memperdulikan aspek yang lebih luas menurut pandangan saya sudah menjadi sistem buruk yang mengakar, mahasiswa menjadi objek pengulangan tradisi sistem tersebut dengan contoh ketika ada satu kebijakan yang menurut mereka membebani,lantas mereka melakukan demo tanpa adanya follow up atau tindak lanjutan aksi tsb, mereka tidak melakukan advokasi yang lebih terhormat misalnya, mungkin mereka lupa, kemudian mahasiswa menjadi subyek pengulangan tradisi sistem buruk tersebut ketika mereka menggantikan “senior” mereka yang dahulu sering menjadi sasaran demo mahasiswa.
Nah ketika sistem tersebut sudah mengakar sudah sepantasnya kita melakukan sesuatu, diawali dengan mengerti hak kita sebagai rakyat, bahwa kita lah yang memiliki kendali atas sebuah negara, kita yang membuat kebijakan, jangan lupa kita punya mulut dan tangan, ucapkan sesuatu dan berbuat sesuatu ketika negara sudah berada di bawah bayang imperialisme.
ping aku seneng katakatamu sing negara ini dijual terpisah. kerennnn