hampa
andai aku tak punya perasaan saja
kemaren aku sedih,
melihatnya menoleh masa lalu ketika seseorang ingin menarik dia kembali
pagi ini aku perih,
mencoba menghapus bayangan dia dengannya yang tiba-tiba muncul begitu saja
bahkan aku tlah lupa rasa lalu
mengapa ia bisa tergoda?
perih, pedih, muak, tapi cinta
juga benci semuanya
Ternyata ingat akan adanya masa lalu begitu menyakitkan. Bukan, bukan masa lalu yang terjadi padaku, tapi malah yang dilalui manusia spesial di sampingku. Begitu naifnya, meski aku pun memiliki masa lalu semacam sama, tapi melihatnya masih membicarakan masa lalu dengan orang yang mempunyai kenangan dengannya begitu menyakitkan. Seolah masa lalu itu begitu ada dan masih terasa sama. Dan aku, yang berada di luar lingkaran itu jauh dan terasing, tanpa dia.
Mungkin gag sebegitunya. Pi menjadi orang yang tidak tau, manusia di luar lingkaran yang hanya mencerna informasi seadanya, memang menyebalkan! Meskipun lingkaran itu menyangkut waktu yang telah habis masanya.
Andai aku tak tahu saja.. Tidak, andai dia tak ikut membicarakannya..
Bodoh? Juni 2, 2008
Keputusan pemerintah menaikan harga BBM memicu banyaknya protes dari berbagai kalangan. Ibu-ibu rumah tangga, sopir angkot, pekerja, hingga mahasiswa turun ke jalan untuk ‘merayu’ pemerintah menurunkan kembali harga BBM. Salah? Tentu tidak. Harga BBM yang melonjak memang membawa petaka tersendiri bagi banyak pihak. Biaya operasional angkot otomatis bertambah yang berakibat pada turunnya penghasilan sopir dan kondektur, berkurangnya konsumen pengguna jasa, hingga pengurangan armada yang mengancam mata pencaharian mereka. Naiknya biaya operasional transportasi juga merangsang kenaikan harga-harga kebutuhan pokok lain, yang secara langsung dirasa oleh para ibu rumah tangga seantero Indonesia. Dari dulu sampai sekarang, yang namanya kenaikan harga BBM pasti banyak gag enaknya.
Masalahnya di sini ialah, mahasiswa (baca: BEM) yang notabene merupakan bagian dari masyarakat intelek juga ikut-ikutan berunjuk rasa meminta pemerintah menurunkan harga BBM yang sudah menjadi ketetapan. Dipikir lagi lah, harga minyak dunia yang memang lagi naik, sekitar US $130 per barel, memang menuntut konsekuensi kenaikan harga BBM untuk menyelamatkan APBN dan aspek-aspek pembangunan yang lain (kecuali pembangunan gedung pribadi pejabat tentunya). Realistis donk, bagaimanapun kenaikan harga BBM menjadi salah satu solusi menghindari dampak negatif yang lebih luas. Bertambahnya hutang dan penyelundupan BBM ke luar negeri karena kesenjangan harga minyak kita dengan negara tetangga misalnya..
Seharusnya mahasiswa yang ikut lembaga eksekutif itu, yang bau-baunya bakalan menggantikan para wakil rakyat di Senayan sana, lebih perlu menyoroti cara bagaimana menaikkan daya beli masyarakat terhadap barang-barang kebutuhan. Jika harga mahal tapi kita mampu beli, mana ada masalah? Malahan jatuhnya 44 BUMN ke tangan investor asing tak disoroti seramai kenaikan harga BBM. Padahal jatuhnya BUMN tersebut, seperti halnya hutang, berdampak besar pada stabilitas ekonomi nasional secara luas. Jatuhnya aset negara yang menguasai hajat hidup orang banyak, yang tentu bertentangan dengan pengamalan UUD ‘45, mengakibatkan ketergantungan kita terhadap pihak asing sementara secara perlahan namun pasti kita kehilangan kekayaan alam kita sendiri. Perampokan besar-besaran! Legalisasi kapitalisme gaya baru! Menyediakan diri untuk dijajah.. Rasanya seperti negara ini dijual terpisah..
Heran, knapa segitu banyak mahasiswa yang demo cuman koar-koar tanpa hasil. Sementara, sebenarnya mereka bisa melakukan hal yang lebih berguna. Mencoba menemukan sumber energi alternatif misalnya.. Atau membuat perangkat baru yang dapat berfungsi dengan bahan bakar alternatif.. Atau, membuat suatu alat yang dapat memaksimalkan penggunaan bahan bakar, menaikkan nilai oktan bahan bakar kendaraan sehingga dapat menghemat penggunaan BBM.. Menggalang modal lalu menciptakan lapangan pekerjaan baru, kecil namun mewadahi.. Mengajak mandiri lalu bangun dan berdiri..
Jangan-jangan mahasiswa yang demo itu memang cuma bisa koar-koar.. Kalau sudah jadi petinggi ya diam saja. Bukannya yang sekarang duduk di kursi itu dulu juga ada di barisan depan demonstrasi mahasiswa ya?
Ah, siapa yang bodoh? Mungkin juga aku yang sampai saat ini belum melakukan apa-apa?